Kamis, 17 Mei 2012

Kertas Kerja (Auditing)


MERIKSAAN AKUNTAN KERTAS KERJA
A.Latar Belakang
            Penulis ingin mencoba memberikan penjelasan-penjelasan tentang  “Kertas Kerja pemeriksaan akuntan”, dimana kertas kerja ini mata rantai yang menghubungkan catatan klien dengan audit. Oleh karena itu kertas kerja sangat penting sekali dalam profesi akuntan publik. Untuk pengumpulan dan pembuatan bukti itulah auditor membuat kertas kerja. Kertas kerja memberikan panduan pada auditor dalam penyusunan kerja dalam auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia.
 Ini membahas mengenai pengertian kertas kerja, dan membahas mengenai kepentingan dalam pembuatan kertas kerja yang baik, isi kertas kerja dan hal-hal yang lainya, yang berhubungan dengan kertas kerja pemeriksaan akuntan.
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Kertas Kerja
Kertas kerja adalah kertas-kertas yang dikumpulkan atau dibuat selama proses pemeriksaan, yang meliputi semua bukti pemeriksaan yang dikumpulkan oleh akuntan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakannya, metode dan prosedur pemeriksaan yang diikuti nya, serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuatnya. Kertas kerja yang dibuat atau diperoleh akuntan dapat berupa memo, analisis, surat komfirmasi, surat representasi manajemin, komentar yang dibuat atau diperoleh akuntan, tembusan dokumen-dokumen penting serta daftar daftar, baik yang dibuat oleh akuntan maupun yang diserahkan oleh klien dan di verifikasi oleh akuntan. Dalam melakukan pemeriksaanya akuntan harus diberi kebebasan oleh klien untuk memperoleh imformasi yang diperlukannya.
Adapun tujuan-tujuan pembuatan kertas kerja adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pemeriksaan.
Pemeriksaan akuntan terdiri dari berbagai tahap pemeriksaan yang dilaksanakan dalam berbagai waktu, tempat, dan pelaksana. Setiap tahap menghasilkan berbagai macam bukti yang dicamtumkan dalam kertas kerja. Koordinasi dan pengorganisasian berbagai tahap pemeriksaan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan kertas kerja.
2.      Untuk mendukung pendapat akuntan atas laporan keuangan yang diperiksannya.
Norma pemeriksaan yang ketiga mengsyaratkan akuntan memperoleh bukti yang sangat cukup dan kompeten sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksanya. Kertas kerja dapat digunakan oleh akuntan untuk mendukung pendapatannya dan merupakan bukti bahwa akuntan telah melaksanakan pemeriksaanya yang memadai.
3.      Untuk menguatkan kesimpulan-kesimpulan akuntan dan kompetensi pemeriksaannya.
Dikemudian hari jika ada pihak-pihak yang memerlukan penjelasan mengenai kesimpulan atau pertimbangan yang telah dibuat oleh akuntan dalam pemeriksaannya, ia dapat kembali memeriksa kertas kerja yang telah dibuat dalam pemeriksaannya. Pembuatan seperangkat kertas kerja yang lengkap merupakan syarat yang penting dalam pembuktian telah dilaksanakannya pemeriksaan yang baik.
4.      Untuk pedoman dalam pemeriksaan berikutnya.
Dalam pemeriksaan yang telah berulang terhadap klien yang sama dalam priode akuntan yang berlainan, akuntan memerlukan imformasi mengenai sifat usaha klien, catatan dan sistem akuntan klien, pengendalian intern klien, dan rekomendasi perbaikan yang diajukan kepada klien dalam pemeriksaan yang lalu,  jurnal-jurnal adjustment yang di sarankan untuk penyajian secara wajar laporan keuangan yang lalu.
B.     Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pembuatan Kertas Kerja Yang Baik.
Ada lima faktor yang harus diperhatikan:                  
1.      Lengkap
a.       Berisi semua imformasi yang pokok, menentuakn komposisi semua data penting yang dicamtumkan dalam kertas kerja.
b.      Tidak memerlukan tambahan penjelasan secara lisan. Artinya kertas kerja harus jelas dapat berbicara sendiri, harus berisi imformasi yang lengkap, tidak berisi imformasi yang belum jelas atau pertanyaan yang belum dijawab.
2.      Teliti
Dalam pembuatan kerja, akuntan harus memperhatikan ketelitian dalam penulisan dan perhitungan sehingga kertas kerjanya bebas dari kesalahan tulis dan perhitungan.
3.      Ringkas
Kertas kerja harus dibatasi pada imformasi yang pokok-pokok saja yang relevan dengan tujuan pemeriksaan yang dilakukan serta disajikan dengan ringkas . untuk menghindari rincian-rincian yang tidak perlu. Analisis yang perlukan oleh seorang akuntan harus merupakan peringkasan dan penapsiran data dan bukan hanya merupakan penyalinan catatan klien kedalam kertas kerja.
4.      Jelas
Kejeasan dalam imformasi kepada pihak-pihak yang akan memeriksa kertas kerja perlu diusahakan oleh akuntan. Penggunaan ini istilah yang menimbulkan arti ganda perlu dihindari. Penyajian imformasi secara sistematik perlu dilakukan.
5.      Rapi
Kerapian dalam pembuatan kertas kerja dan keteraturan penyusunan kertas kerja akan membantu akuntan senior dalam menela’ah hasil pekerjaan stafnya serta memudahkan memperoleh imformasi dari kertas kerja tersebut.
C.     Tipe Kertas Kerja
1.      Program Pemerisaan (Audit Program)
Merupakan daftar prosedur pemeriksaan untuk struktur rinci untuk mengumpulkan tipe bukti pemeriksaan tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam pemeriksaannya.
2.      Working Trial Balance
Suatu daftar yang berisi saldo-saldo rekening buku pada akhir tahun pemeriksaan dan pada akhir tahun sebelumya, kolom-kolom adjustment dan penggolongan kembali yang diusulkan oleh akuntan, serta saldo-saldo yang telah dikoreksi akuntan yang akkan nampak dalam laporan keuangan yang telah diperiksa akuntan.
3.      Ringkasan Jurnal Adjustment
Dalam proses pemeriksaannya, akuntan mungkin memnjumpai kesalahan-kesalahan dalam laporan keunagan dan catatan –catatan akuntan kliennya, untuk memperbaiki membuat draft jurnal adjustment yang nantinya akan dibicarakan dengan kliennya, dan disamping itu akuntan membuat penggolongan kembali, untuk unsur, yang, meskipun tidak salah dicatat oleh klien, tetapi demi kepentingan penyajian laporan keuangan yang wajar harus digolongkan kembali.
4.      Daftar Utama (Lead Schudule atau Top Schudule)
Adalah kertas kerja yang digunakan untuk meringkas imformasi yang dicatat dalam daftar pendukung untuk rekening-rekening yang berhubungan. Ini digunakan untuk menggabungkan rekening-rekening buku besar yang sejenis, jumlah saldonya akan dicamtumkan didalam laporan keuangan dalam satu jumlah.
5.      Daftar Pendukung (Supporting Schedule)
Dalam daftar pendukung ini harus mencamtumkan pekerjaan yang telah dilakukan oleh akuntan dalam memverifikasi dan menganalisis unsur-unsur yang telah dicamtumkan dalam daftar tersebut, metode verifikasi  yang digunakan pertanyaan yang timbul dalam pemeriksaan, serta jawaban atas pertanyaan tersebut.
D.    Pemberian Indeks Pada Kertas Kerja
Setiap auditor mempunyai cara sendiri dalam memberikan indeks kertas kerja. Faktor-faktor yang yang harus diperhatikan dalam pemberian indeks kertas kerja adalah sebagai berikut:
1.      Setiap kerja harus diberi indeks, dapat disudut atas atau disudut bawah
2.      Peencamtuman indeks silang (cross index) harus dilakukan sebagai berikut:
a.       Indeks silang dari skedul pendukung ke skedul utama.
Rincian yang tercantum dalam suatu skedul pendukung diberi indeks silang dengan menunjukan indeks skedul utama yang berkaitan yang memuat jumlah tersebut.
b.      Indeks silang dari skedul akan pendapatan biaya.
Sering kali analisis akun nerasa berhubungan dengan analisis akun laba-rugi. Oleh karena itu kertas kerja yang berhubungan dengan akun nerasa harus diberi indeks silang dengan kertas kerja yang berhubungan dengan akun laba-rugi.
c.       Indeks silang antar skedul pendukung.
Sering kali skedul pendukung tertentu memuat imformasi yang berkaitan dengan imformasi lain yang tercantum dalam skedul pendukung lain. untuk saling menghubungkan imformasi diperlukan indeks silang antar skedul pendukung.
d.      Indeks silang dari skedul pendukung ke ringksan jurnal adjustment
Seperti jurnal adjusment yang dicatat dalam kertas kerja ringkasan jurnal adjustment harus diberi indeks silang, dengan cara mencantumkan indeks skedul pendukung dibelakang jurnal adjustment yang dicamtumkan dalam ringkasan jurnal adjustment tersebut.
e.       Indeks silang dari skedul utama ke working trial balance.
Indeks skedul utama dicamtumkan pada working trial balance agar memudahkan pencarian kembali imformasi yang lebih rinci dari working trial balance  ke skedul utama.
f.        Indeks silang dapat digunakan pula untuk menghubungkan program audit dengan kertas kerja.
Indeks kertas kerja dicamtumkan pada program audit untuk menunjukan dikertas kerja mana hasil pelaksanaann audit tersebut dapat ditemukan.
3.      Jawaban komfirmasi, pita mesin hitung, print-out komputer, dan sebagainya tidak diberi indeks kecuali jika dilampirkan dibelakang kertas yang berindeks.
E.     Metode Pemberian Indeks Kertas Kerja
1.      Indeks angka
Kertas kerja utama, skedul utama, dan skedul pendukung diberi kode angka. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi indeks dengan angka, sedangkan skedul pendukung diberi subindeks dengan mencamtumkan nomor kode skedul utama yang berkaitan.
2.      Indeks kombinasi angka dan huruf.
Kertas kerja diberi kode yang merupakan kombinasi huruf dan angka. Kertas kerja utama dan skedul utama diberi kode huruf, sedangkan skedul pendukungnya diberi kode kombinasi huruf dan angka.
3.      Indeks angka berurutan.
Kertas kerja diberi kode angka yang berurutan.
F.      Susunan Kertas Kerja
Akuntan senior yang me-review kertas kerja biasanya menghendaki susunan kertas kerja dalam urutan sebagai berikut:
1.      Draft laporan audit (audit report)
2.      Laporan keuangan auditan.
3.      Ringkasan imformasi bagi reviewer.
4.      Program audit
5.      Laporan keuangan atau lembar kerja (work sheet) yang dibuat oleh klien
6.      Ringkasan jurnal adjustment
7.      Working trial balance
8.      Skedul utama
9.      Skedul pendukung
10.   
G.     Pengarsipan Kertas kerja
Ada dua macam:
1.      Arsip kini (current file)
Arsip kini berisi kertas kerja yang imformasinya hanya mempunyai mamfaat untuk tahun yang diaudit saja.
2.      Arsip permanen (permanent file)
Arsip parmanen ini berisi sebagai berikut:
1.      Copy anggaran dasar dan anggaran rumah tangga klien.
2.      Bagan organisasi dan luas wewenang serta tanggung jawab para manajer.
3.      Pedoman akun, pedoman prosedur, dan data lain yang berhubungan dengan pengendalian intern.
4.      Copy surat perjanjian penting yang mempunyai masa laku jangka panjang.
5.      Tata letak pabrik, proses produksi, dan produk pokok perusahaan.
6.      Copy notulen rapat direksi, pemegang saham, dan komete-komete yang berbentuk klien.
Pembentukan arsip pamanen mempunyai tiga tujuan yaitu:
1.      Untuk mengsegar ingatan auditor mengenai imformasi yang akan digunakan dalam audit tahun-tahun mendatang.
2.      Untuk memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien bagi staf yang baru pertama kali menangani audit laporan keuangan klien tersebut.
3.      Untuk menghindari pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ketahun.
Kesimpulan
            Dari latar belakan dan isi makalah diatas dapatlah saya ambil kesimpulan bahwa,
Kertas kerja adalah catatan yang diselenggarakan oleh auditor mengenai produser audit yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, imformasi yang diperolehnya, dan kesimpulan yang dibuatnya sesuai dengan auditnya. Kerta kerta merupakan mata rantai yang menghubungkan catatan akuntansi klien dengan laporan audit yang dihasilkan oleh auditor.
Ada empat tujuan penting dalam pembuatan kertas kerja,
1.      Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pemeriksaan.
2.      Untuk mendukung pendapat akuntan atas laporan keuangan yang diperiksannya..    
3.      Untuk menguatkan kesimpulan-kesimpulan akuntan dan kompetensi pemeriksaannya..
4.      Untuk pedoman dalam pemeriksaan berikutnya.

DAFTAR REFRENSI

ü      Mulyadi, Pemeriksaan Akuntan, Edisi 4. Cetakan ke 1, Jogyakarta :  Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, 1992.
ü      Mulyadi, Auiting, Edisi 6, Buku 1, Jakarta: Salemba Empat, 2002.




























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar