resensi zero to heero.docxResensi
Judul :
ZERO to HERO
(Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi
Luar Biasa)
Penulis:
Solikhin Abu Izzudin
Penerbit:
Pro-U Media jogjakarta
Tebal:
300 halaman
Peresensi:
Husna
BUKU INI: menjelaskan tentang bagaimana
cara mendahsyatkan diri kita yang kecil menjadi diri yang berpribadian
yang luar biasa agar diri kita tidak selalu berkecil hati, yakinlah bahwa kita
pasti bisa menjadi orang besar.
‘’Kita akui, kita orang
biasa, banyak keterbatasan, kekurangan , kelemahan, kegagalan kelemasan dll.
Itu bukan masalah. Bagaimana ditengah keterbatasan itu kita dahsyatkan diri
agar lahir prestasi tingggi. Itulah kepahlawanan sejati. From zero to hero !’’
Isi buku ini mengajak kita untuk
bermimpi. Ada apa dengan bermimpi
?Mengapa kita harus bermimpi ? bukankah mimpi itu adalah bunga nya tidur ?
begini , suatu hari umar bin khothab melakukan dialog dengan beberapa orang
dizamannya, umar bin khatab berkata : “berangan-angannlah !” maka diantara
salah seorang yang hadir berkata: “saya
berangan-angan kalau saya mempunyai banyak uang, lalu saya belanjakan untuk
memerdekakan budak dalam rangka meraih ridha Allah swt.
Seorang lainnya menyahut : kalau saya,
berangan angan memiliki banyak harta, lalu saya belanjakan fisabilillah,’’ yang
lainnya meyahut : “kalau saya berangan mempunyai kekuatan tubuh yang prima lalu
saya abadikan diri saya untuk memberi air zam-zam kepada jama’ah haji satu
persatu.
Mungkin dibenak-benak anda bertanya
kanapa kita harus bermimpi?begini pembaca budiman, memang mimpi bisa tinggal
mimpi, namun ada sebuah hikmah “bermimpilah sebelum kamu menjadi pemimpin”
serta “belajarlah sebelum engkau menjadi pemimpin” . ternyata banyak
orang-orang besar, pemimpin besar yang berangkat dari seorang pemimpi. Jadilah
pemimpi besar untuk menjadi pemimpin
besar. Dalam sebuah majelis, ada seorang
masyaikh yang mengatakan “laa budda lil qaa-idi an yakuna lahu ahlam, wa illa
la yashluh an yakuuna qaa-idan… seorang pemimpin harus mempunyai banyak mimpi,
jika tidak, maka ia tidak layak untuk
jadi seorang pemimpin.
Disamping itu buku ini menjelaskan
tentang istiah bercita-cita besar yang mempunyai arti unik untuk kita ketahui
yang sesuai dengan analogi kita dan juga al-quran dan al-hadist diantaranya,
cita-cita ibarat dinamo, Maksudnya cita-cita besar itu ibarat dinamo yang menggerak
kan arus positif dan arus negative yang mengontrol tubuh kita. Cita-cita besar
ibarat bahan bakar, memacu kendaraan untuk maju, dan melesatkan kereta dengan
cepat. Cita-cita besar itu adalah pintu, Maksudnya pintu kebahagiaan, pintu kesuksesan, pintu
kesempurnaan, “dan katakannlah: “ya tuhan-ku , masukanlah aku secara masuk,
yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah
kepada ku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (Al Isra’ :80 ) cita-cita
besar itu merupakan obat, Maksudnya obat menghilangkan kelemahan,
penghilang kemalasan, penghilang kesedihan, dan penghilang kehinaan.
Cita-cita ciri kemuliaan, Maksudnya orang mulia adalah orang yang memiliki
cita-cita. Karena cita-cita akan membangun pendirian yang kokoh, tidak gentar
menghadapi masalah, tidak jera menghadapi kegagalan. Sedangkan orang yang tidak
memiliki cita-cita akan menjadi pengecut, penakut, dan pecundang. Diantara
manifestasi cita nan mulia adalah membangun keluhuran jiwa yang menjauhkan diri
dari posisi tertuduh. Nabi Muhammad saw berpesan “janganlah kalian menduduk kan
diri pada posisi tertuduh.” Maksudnya, jauhilah sarang-sarang fitnah yang
membuat kita terhina dan tercela.
Begitu banyak dan begitu penting untuk menjadi
besar dengan cita-cita besar. Tapi jangan sekali-kali merasa besar. Karena
merasa besar akan menumbuhkan penyakit jiwa, menyebabkan sensara, dan pembawa
derita. Sedangkan menjadi besar membawa bahagia.
Momentum prestasi :
Buku ini juga mengatakan waktu adalah
berprestasi, maksudnya jangan sia-siakan waktu kita, karena kesempatan emas
tidak akan datang ke dua kalinya. Demi
masa, demikian alloh bersumpah. Bukan main-main tentunya, karna Allah
menegaskan setelah bahwa sesungguhnya manusia pasti merugi kalau tidak
memperhatikan waktu, kecuali 4 golongan : Orang yang beriman, Orang yang
beramal shaleh, Orang yang menasehati dalam kebenaran, dan orang yang
menasehati dalam kesabaran.
Sebagaiman firman Allah dalam surat al- ashr
ayat 1-3:
“Demi masa, sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
mentaati kesabaran.”
Menylkapi ayat ini, imam syafi’I rahimahumullah
berkata, “seandainya manusia memahami ayat ini cukuplah agama ini baginya…” apa
maksudnya ? imam syafi’i mengartikan bahwasanya hidup ini adalah kumpulan
waktu. Orang yang tidak mampu menggunakan waktu maka orang tersebut dijamin
rugi,dan sebaliknya apabila orang mampu mengoptimalkan waktu dalam menggali
potensi yang ada pada diri kita dan menghasilkan prestasi yang luar biasa maka
orang tersebut akan sukses dan akan menghasilkan jejak-jejak sejarah dalam
hidupnya.
Ada tiga hal yang tidak pernah kita dapat kan
kembali:
1. Kata yang telah diucapkan.
2. Waktu yang telah lewat.
3. Momentum yang diabaikan.
Umar bin abdul aziz menyikapi, saat beliau menjadi kholifah
menggantikan sulaiman bin abdul malik, dengan niat tulus yang suci, dengan jiwa
yang kokoh dan bersih, dengan tekad yang membara,ia pikul kekhalifaan yang ia
rindukan itu. Ia mengatakan, “aku akan duduk disebuah tempat yang tidak akan
aku berikan sedikit pun tempat duduk untuk syetan,” subhanalloh begitu sucinya
hati nya umar bin abdul aziz.
Buku ini bukan buku cerita pelepas lelah pengantar tidur, bukann
pula “buku cerita” tentang prestasi manusia.tapi Pengarang (zero to hero)
menggali dari khasanah yang terpendam , merangkai yang tercecer, menyusun yang
terbengkalai, merawat yang dianggap remeh dan menyungguh kannya menjadi sebuah
“kekuatan dahsyat” untuk menggugah dan
mengubah diri menjadi luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar